KTSP Menguntungkan atau Menyengsarakan?

Oktober 28, 2007 at 8:47 am 3 komentar

Oleh: M. Iman Usman

Nggak ngerti juga ya, kenapa KTSP selalu menjadi peributan? Mm bukan! Maksudnya, Kurikulum selalu menjadi perdebatan yang hangat, baik kalangan siswa, sekolah, ampe rumah tangga juga pusing dengan kurikulum. Kenapa rumah tangga (keluarga) ikutan pusing juga dengan yang namanya KTSP? Karena.. kalau kurikulum sering banget berubah, efekny buku juga sering ganti-ganti, dan akibatnya masalah duit lagi!

Well, kalo ngomongin soal kurikulum, memang nggak bakalan kelar-kalar. Selama kurikulum itu nggak berdampak banyak terhadap peningkatan kompetensi siswa, tapi justru meningkatkan pengeluaran. Emang sih, pendidikan itu mahal. Pendidikan butuh duit. Siapa bilang pendidikan gratis?. Its okay, kalo sekolah nya gak bayar SPP. Tapi masih banyak pungutan-pungutan liar yang kadang seolah sengaja dibuat-buat. Kalo sekolah ikutan pungli, apa bedanya dengan orang yang gak berpendidikan?

Saya sendiri sebagai siswa, emang ngerasain sendiri akibat dari perubahan kurikulum, atau mungkin juga akibat dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang sedang saya jalani saat ini. Sebelumnya, mungkin ada baiknya kalo kita sama-sama tahu, apa itu KTSP.

KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. Well, kalo emang KTSP itu berbasis kompetensi, kenapa juga harus tukar-tukar nama. Akibat dari tukar-tukar nama itu, banyak juga yang harus kami tukar. Mulai dari buku, ampe perlakuan aneh yang mengatasnamakanj KTSP.

Kalo emang katanya mau menyempurnakan, haruskah sebuah penyempurnaan membutuhkan pergantian nama? Pergantian sikap sih okay-okay aja, mo ganti implementasi pendidikan terserah.. kalo orang mo menyempurnakan amal ibadahnya, emang dia harus merubah sikpanya menjadi lebih baik. Tetapi orang tersebut gak butuh pergantian dalam banyak hal. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.Yupz.. KTSP emang memberikan kebebasan yang SANGAT BESAR kepada sekolah. Saking bebasnya, guru jadi banyak yang nggak datang, dan Cuma ngasih latihan, diskusi yang nggak jelas ujung akhirnya (yang penting atas nama diskusi), dan duduk-duduk.. dan finally.. mengatasnamakan KTSP. Di mana siswa harus aktif. Kondisi lingkungan? MM.. saya sendiri nggak ngerasain perbedaan kondisi lingkungan di sekolah kami. Mm.. sekolah tetap sempit, labor tetap tak terurus, ruang belajar tetap panas dan nggak nyaman, dan guru juga masih tetap begitu begitu saja. Kemampuan peserta didik? Menyesuaikan? Nggak tuwh! Guru jadi nggak liat lagi bahwa siswa itu kebagi atas murid yang amat pintar, pintar, sedang, kurang, dan sangat kurang. Semuanya disamaratakan saja..

Karena sekali lagi SISWA HARUS AKTIF. Sumber belajar NO COMMENT! Pokoknya tetap nggak berubah. Perpus tetap diisi oleh buku-buku berdebu, terbitan tahun 80-an, walaupun buku-buku tersebut dipinjam terakhir kalinya 10 tahun yang lalu. Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan.Katanya tidak ada ketentuan tentang buku yang dipakai. Tapi sekoalh tetap menetapkan satu buku. Semua kerjaan disuruh dari buku itu. Menambah isi buku? Jarang banget kali! Trus, kalo katanya tiap sekolah punya kurikul yang beda, nggak tuh.. Biz, kalo saya perhatikan.. rapat MGMP masih ada,, yang sering netapin kurikulum bersama. Dan masih ada ujian semester se kota Padang. Kalo sekolah emnag punya kurikulum sendiri, kenapa nggak bikin soal sendiri. But ingat! Jangan ampe minta dana lagi ma siswa, gara gara guru sekolah yang bikin soal.

Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.

Mengaitkan dengan isu-isu regional?? Hahahaha.. yang ada kalo guru diajarin ma muridnya, sok ngerti banget!! Hahah.. sudahlah.. sepertinya hidup seperti ini emang harus kita ajalani. But,, tetep bahwa tujuan utama dari KTSP dan PENDIDIKAN itu semoga bisa tercapai menyeluruh

Entry filed under: Coretan. Tags: , , .

What Can We Do For KTSP? MDGs Courses “Dream Project yang Jadi Nyata”

3 Komentar Add your own

  • 1. mutz  |  November 17, 2007 pukul 8:03 am

    Ass, gene ya Mas, ngapain sich pusing” mikirin KTSP, ini mah cuma masalah cabang, akar masalah kita tu ya di Sistem yang bercongkol saat ini. emangnya Kurikulum bak pohon apa ? ya ya ya. kalau akarnya ga dimatiin n cabangnya aza yang dipotong ya tetap aza tumbuh. Pemerintah juga makhluk yang terbatas, sama aza kaya mas n saya( relain az ya mas disamain ma saya ) jadi kita perlu mencari aturan dari yang ga pernah terbatas, ayo mas tebak-tebak berhadiah ???? , yang saya dapat dari kaka saya yang sudah habis” san ngebandingin semua kurikulum, KTSP ini cuma ada karena pemerintah mau lepas tangan dari pendidikan, wah pikirin nasib orang tua saya DUnk…, jadi saya cuma mau REVOLUSI……….. Mas mau ga ??? oya yang ga terbatas itu ya pencipta kita, Saya hanya mau sistem yang ada disini sistem yang dari- NYA !!!!saya ga percaya lagi apa yang dibilang pemerintah, saya ga percaya lagi dengan kapitalis, sekuler, apalagi demokrasi. maapkan saya ya mas. So back to ISLAM………..Saya cuma Mau Semua siStem baik itu pendidikan, ekonomi,dlll Hanya dari yang ga terbatas. Sebenarnya ini hanya kekesalan saya yang dari tadi cari keindahan KTSP, ternyata ga ada… Jadi KTSP cs menurut saya Menyengsarakan, mas sich ngasih pilihan cuma itu, boleh ga mas saya milih ATAU??? Mas” Maafin saya ya, belum bisa ngasih solusi yang terbaik… karena saya baru pemula ingin mengenal ISlAM….dah dulu ya Mas N mohon maaf… Wassalam

    Balas
  • 2. Nuchan  |  Maret 24, 2008 pukul 9:05 am

    Inilah yang bikin saya nggak senang bersekolah di sekolah formal..
    Sudah lama saya mendambakan sekolah yang benar-benar bikin saya enjoy, tapi gak ada tuch. Selama “bersekolah” saya kepaksa mesti mengalami kurikulum yang gonta-ganti terus tanpa kepastian, jadi korban atau katakanlah, “kelinci percobaan” menteri pendidikan n pemerintah yang plin-plan bla bla bla.. Aaaarrrgghhh, pengen cepet2 kuliah deh! Btw saya dah ninggalin testi di fs kmu.. baca ya. Kmu suka debat kan? Saya juga suka banget, baru2 nie saya ikut debat di ITB Expo..Kmu hometown’y di Padang ya?

    Balas
  • 3. Halley  |  April 22, 2008 pukul 5:31 am

    Assalamu alaikum wr. wb
    Kurikulum memang merupakan salah satu bagian penting yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan. Secara sederhana, Ia bisa dikatakan sebagai arahan atau pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Seperti halnya prajurit yang akan maju berperang, ia harus memiliki bekal yang memadai, tidak hanya bekal keberanian semata tetapi juga taktik, strategi perang, strategi menghindar, pengetahuan akan medan, penggunaan senjata yang tepat, dan sebagainya. Tanpa itu semua, prajurit akan “mati konyol”, atau tertawan oleh musuh dan misinya bisa dipastikan gagal.
    Fungsi kurikulum bisa dipandang secara sederhana seperti “bekal” yang harus dimiliki oleh seorang prajurit. Sebelum seorang siswa-guru belajar-mengajar, mereka harus memiliki arahan; apa tujuan pembelajaran ? apa indikator keberhasilan pembelajaran ? bagaimana strategi untuk mencapai tujuan itu? dan bagaimana cara mencapai tujuan itu ? dan sebagainya. itu semua ada di kurikulum.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: