Bosan Dengan Sekolah

Maret 20, 2008 at 11:53 am 3 komentar

Well, kali ini saya berbicara bukan atas nama siapa-siapa. Yeah.. Ini atas nama seorang siswa yang bernama Iman (Is it Mine?). Entahlah..

 Belakangan ini saya semakin yakin bahwa “Saya bosa dengan sekolah”, maksudnya bosan dengan segala “rule of the game” ANEH bin AJAIB yang ditetapkan di sekolah. Entahlah.. semakin lama saya semakin yakin, bahwa sebenarnya apa yang dikejar oleh para guru selain “Gaji”. Saya bosan, ketika semakin banyak guru yang cuma berpikir bahwa nilai ujian adalah segalanya. Saya bosan dengan tingkah guru yang tidak siap dikritik. Saya heran dengan pola pikir guru yang menganggap bahwa merekalah yang terbaik, dan cuma mereka yang bisa bikin siswa sukses, dan selebihnya NOTHING.

Ya Allah.. Apa salah saya sebenarnya?

1. Kemarin saya dipanggil oleh guru B.Inggris saya, Ms….. , kemudian beliau memperlihatkan email “forward” yang dikirim oleh Natural Disaster Youth Summit Coordinator dari Jepang. sedikit cerita, sebulan yang lalu, sekolah saya bikin seleksi buat siswa/i kelas 1 untuk berpartispasi dalam Natural Disaster Youth Summit di Jepang. Kenapa cuma kelas 1? Karena Indonesia maunya mengirim representatives yang berusia max 15 tahun. Sebetulnya, sebelum ada seleksi di sekolah, saya sudah tahu soal NDYS, dan saya juga sudah mengirimkan aplikasi online ke coordinator di Jepang. Yang membuat saya bertanya-tanya, mengapa dibatasi 15 tahun? sedangkan setahu saya, di website NDYS dijelaskan bahwa usia nya tidak tertera. “All participants should be an elementary school student until senior high school student”, dan saya sebagai high school student merasa berhak dong? Ok… saya terima penjelasan guru saya “Kita ikutin maunya ASPNet Indonesia”. Tapi tentu perasaan heran, bingung, dan saya butuh kejelasan. Alhasil, saya mengirimkan email ke Coordinator NDYS di Jepang, yang menerangkan bahwa saya ingin berpartisipasi dalam NDYS 08. Kemudian coordinator di Jepang membalas email saya, dan menanyakan mengapa saya tidak ikut registrasi di sekoalh, menanyakan bagaimana masalah sebenarnya. Kemudian saya mengirimkan email, yang bunyinya seperti ini:

I’d like to register to participate in NDYS 2008. I’ve sent it for
many
> times, but don’t get any response
>
> 1.Your name : Muhamad Iman Usman
> 2.Your e-mail address : ini_iman@yahoo.com
> 3.Your status and subject : Student
> 4.Your school name : SMAN 1 Padang, Indonesia
> 5.Your school WEB site address : www.sman1-pdg.sch.id
> 6.Your school telephone and fax No: (62)(751)21809
> 7.Your school address : Jl. Jenderal Sudirman No.1 Padang, Indonesia
> 8.Participating students grade (ages)
> 9.Number of participating students
> 10.Information of your internet environment
> 11.our expectation to this project (if possible) : We can prepare
any
> presentation, and report of our activities in IEARN INDONESIA
(Preapreness
> for natural disaster), and also the situation of disaster in
Indonesia
> 12. Do you  have a membership of iEARN?      Yes
>
> Actually, I’m astudent and of of the commitee of IEARN in my school.
> Indonesia choose our country as the representative of IEARN 2008.
But, the
> representatives chosen by our teacher. I hope, it can be democratic.
Yeah,
> you know what i mean. I mean.. my teacher said that the limit of the
> participant is 15 years old. But, i read in NDYS website, that the
> participants are elementary school – senior high school. and i’m
still 16
>
> i hope you can give good explanation. I’m not also join in IEARN. But
also
> i’m the president of Indonesian Critical Children Community, and also
West
> Sumatra Children Forum. So, I believe that i can be a good
representative,
> and can give the best for NDYS 2008. I also an exchange student to
Japan in
> 2007.
>
> Thanks, i hope you can reply soon.
>
> Iman

Kemudian, guru saya memanggil saya dan berkata, kira-kira seperti ini bunyinya:

“Iman, apa maksud kamu mengirimkan email ke Jepang? Coba yang kamu tulis itu apa? Mengatakan bahwa saya tidak demokratis. Padahal saya kan sudah perlihatkan email dari ASPNet ke kamu. Kamu memang pintar, tapi jangan lancang. Ini namanya kamu lancang, kelewat batas, sekarang orang Jepang menganggap saya tidak demokratis.

Kemudian saya mencoba memberikan penjelasan bahwa saya hanya menanyakan kejelasan, mengapa Indonesia meminta batas 15 tahun. Yang saya maksudkan demokratis itu, saya harap Indonesia juga bisa FAIR. Kemudian guru saya berkata

“Saya tahu, maksud kamu mungkin tidak seperti itu. Tapi HATI HATI DALAM MENULIS. Orang bisa salah interpretasi. Kamu pikir kamu bisa hebat sendiri, tanpa guru kamu juga nggak bisa apa-apa. Mana kamu sok bilang prestasi kamu”

Dalam hati, saya berpikir Ya Allah.. Jujur saya nggak ada maksud apa-apa. Masalah prestasi, saya rasa wajar jika dalam menulis aplikasi kita menyebutkan posisi kita dalma organisasi. Maksudnya kan supaya lebih meyakinkan. Malamnya, saya terima email dari NDYS Coordinator Jepang:

Thank you so much for your patience.
I really appreciate it.
I talked with Wiwi, your teacher.
Now, everything is clear and we are happy to have you
as NDYS members.
I will soon introduce you to NDYS members.

I just wanted to make sure that NDYS do not have the gathering
in Japan this year as I told you already.
We will get togather in Trinidad and Tobago in April.
But we have video conference on 23rd of March.
I do hope you will join us, but I am not sure
you have facilities for video conference.

Anyway, we are happy to have you as our member!

Keep in touch!

Kemudian esoknya saya bilang sama teman saya, “Hen, ternyata anak-anak itu nggak jadi ke Jepang, tempatnya di Trinidad and Tobago”. Trus teman saya cerita sama 2 orang calon representatives NDYS dari sekolah kita. dan 2 orang siswa tersebut langsung lapor ke guru saya, dan mengkonfirmasikan hal itu. dan guru saya sekali lagi marah. Menanganggap saya lancang.

Ufff… entahlah.. saya bingung dengan kondisi seperti ini. Menurut teman-teman gimana, kalo saya salah bilang aja. Mungkin saya bisa intropeksi diri.

Entry filed under: Coretan. Tags: .

What Are The Next? Hari Buruh “Refleksi”

3 Komentar Add your own

  • 1. nuchan  |  Maret 27, 2008 pukul 9:33 am

    Yeah…
    Saya juga bosen setengah mati sama sekolah-sekolah sekarang, sucks! Para guru tak pernah mau memahami, selalu salah memahami dan tak mau meluangkan waktu untuk memahami saya. Kecuali beberapa orang, kayaknya. Saya ingin dicintai guru-guru seperti saya mencoba mencintai mereka sebagai sosok pendidik yang paling dekat dengan saya, selama saya jauh dari orangtua di rumah. And bla…bla..bla…bla.. *macammacamkeluhanyanggakpentingbuatditulisdisini*
    Eh… kamu berangkat ke Trinidad and Tobago’y bulan April ya? saya juga pengen join sich sebenernya….

    Balas
  • 2. springtime  |  Juni 3, 2008 pukul 11:28 pm

    Springtime says : I absolutely agree with this !

    Balas
  • 3. Meanness  |  Juni 19, 2008 pukul 10:31 am

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Meanness.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: