Posts tagged ‘kurikulum’

KTSP Menguntungkan atau Menyengsarakan?

Oleh: M. Iman Usman

Nggak ngerti juga ya, kenapa KTSP selalu menjadi peributan? Mm bukan! Maksudnya, Kurikulum selalu menjadi perdebatan yang hangat, baik kalangan siswa, sekolah, ampe rumah tangga juga pusing dengan kurikulum. Kenapa rumah tangga (keluarga) ikutan pusing juga dengan yang namanya KTSP? Karena.. kalau kurikulum sering banget berubah, efekny buku juga sering ganti-ganti, dan akibatnya masalah duit lagi!

Well, kalo ngomongin soal kurikulum, memang nggak bakalan kelar-kalar. Selama kurikulum itu nggak berdampak banyak terhadap peningkatan kompetensi siswa, tapi justru meningkatkan pengeluaran. Emang sih, pendidikan itu mahal. Pendidikan butuh duit. Siapa bilang pendidikan gratis?. Its okay, kalo sekolah nya gak bayar SPP. Tapi masih banyak pungutan-pungutan liar yang kadang seolah sengaja dibuat-buat. Kalo sekolah ikutan pungli, apa bedanya dengan orang yang gak berpendidikan?

Saya sendiri sebagai siswa, emang ngerasain sendiri akibat dari perubahan kurikulum, atau mungkin juga akibat dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang sedang saya jalani saat ini. Sebelumnya, mungkin ada baiknya kalo kita sama-sama tahu, apa itu KTSP.

KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. Well, kalo emang KTSP itu berbasis kompetensi, kenapa juga harus tukar-tukar nama. Akibat dari tukar-tukar nama itu, banyak juga yang harus kami tukar. Mulai dari buku, ampe perlakuan aneh yang mengatasnamakanj KTSP.

Kalo emang katanya mau menyempurnakan, haruskah sebuah penyempurnaan membutuhkan pergantian nama? Pergantian sikap sih okay-okay aja, mo ganti implementasi pendidikan terserah.. kalo orang mo menyempurnakan amal ibadahnya, emang dia harus merubah sikpanya menjadi lebih baik. Tetapi orang tersebut gak butuh pergantian dalam banyak hal. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.Yupz.. KTSP emang memberikan kebebasan yang SANGAT BESAR kepada sekolah. Saking bebasnya, guru jadi banyak yang nggak datang, dan Cuma ngasih latihan, diskusi yang nggak jelas ujung akhirnya (yang penting atas nama diskusi), dan duduk-duduk.. dan finally.. mengatasnamakan KTSP. Di mana siswa harus aktif. Kondisi lingkungan? MM.. saya sendiri nggak ngerasain perbedaan kondisi lingkungan di sekolah kami. Mm.. sekolah tetap sempit, labor tetap tak terurus, ruang belajar tetap panas dan nggak nyaman, dan guru juga masih tetap begitu begitu saja. Kemampuan peserta didik? Menyesuaikan? Nggak tuwh! Guru jadi nggak liat lagi bahwa siswa itu kebagi atas murid yang amat pintar, pintar, sedang, kurang, dan sangat kurang. Semuanya disamaratakan saja..

Karena sekali lagi SISWA HARUS AKTIF. Sumber belajar NO COMMENT! Pokoknya tetap nggak berubah. Perpus tetap diisi oleh buku-buku berdebu, terbitan tahun 80-an, walaupun buku-buku tersebut dipinjam terakhir kalinya 10 tahun yang lalu. Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan.Katanya tidak ada ketentuan tentang buku yang dipakai. Tapi sekoalh tetap menetapkan satu buku. Semua kerjaan disuruh dari buku itu. Menambah isi buku? Jarang banget kali! Trus, kalo katanya tiap sekolah punya kurikul yang beda, nggak tuh.. Biz, kalo saya perhatikan.. rapat MGMP masih ada,, yang sering netapin kurikulum bersama. Dan masih ada ujian semester se kota Padang. Kalo sekolah emnag punya kurikulum sendiri, kenapa nggak bikin soal sendiri. But ingat! Jangan ampe minta dana lagi ma siswa, gara gara guru sekolah yang bikin soal.

Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.

Mengaitkan dengan isu-isu regional?? Hahahaha.. yang ada kalo guru diajarin ma muridnya, sok ngerti banget!! Hahah.. sudahlah.. sepertinya hidup seperti ini emang harus kita ajalani. But,, tetep bahwa tujuan utama dari KTSP dan PENDIDIKAN itu semoga bisa tercapai menyeluruh

Oktober 28, 2007 at 8:47 am 3 komentar

What Can We Do For KTSP?

Oleh: Imre Nagi (SMAN 1 Padang)

KTSP merupakan kurikulum yang diresmikan untuk mengatasi mandulnya kreativitas guru. Diharapkan setelah adanya KTSP ini guru dapat kreatif dan menemukan inovasi baru dalam proses pengajaran. KTSP sendiri merupakan kurikulum yang dibuat oleh guru berdasarkan Standar Isi dan Standar Kompetensi yang ditetapkan Depdikanas. Masalah yang timbul selanjutnya adalah, apakah KTSP ini akan berhasil dengan jalan melibatkan guru sebagai penyusun kurikulum, sedangkan selama ini pendidikan keguruan di Indonesia tidak melibatkan guru sebagai penyusun kurikulum ? Berapa banyak guru yang aktif dan siap dalam spirit perubahan yang diisyaratkan oleh KTSP ?
Oke,kita tidak perlu menyalahkan guru jika nantinya kurikulum ini tidak berhasil . Yang perlu kita kaji sekarang adalah bagaimana kita sebagai siswa mampu membantu penyusunan dan pelaksanaan KTSP ini. Banyak jalan menuju Roma. Ya !! Banyak cara yang bisa kita lakukan. Salah satunya kita bisa memberikan masukan kepada guru-guru setelah kita mengadakan riset terhadap beberapa siswa mengenai tingkat kejenuhan dalam PBM (Proses Belajar dan Mengajar), bagaimana teknik pengajaran yang menarik menurut siswa, dan yang lebih penting adalah bidang apa yang ingin kita tekuni untuk menghadapi dunia kerja nanti . Semakin banyak terhimpun ide, maka akan lebih mudah untuk menyusun KTSP . Ternyata KTSP menyiratkan budaya demokrasi juga ya ?? ^_~

KTSP menciptakan tamatan-tamatan yang siap pakai. Kurikulum diharapkan dapat menciptakan tamatan-tamatan yang berkompeten dalam bidangnya. Tetapi, sangat disayangkan sekali bahwa kuantitasnya tidak mencapai jumlah yang diinginkan. Analisanya, hal ini disebabkan oleh pemerataan kurikulum di Indonesia. Seperti pada kurikulum sebelumnya, kurikulum di daerah Indonesia terdapat pemerataan. Artinya kurikulum antara satu daerah dan daerah lain sama. Kurikulum Perkotaan sama dengan kurikulum daerah pariwisata,pesisir sama dengan daerah pertanian. Akibatnya kurikulum tidak memberikan skill praktik untuk memanfaatkan potensi dari dalam diri dan lingkungan yang tersedia.

Padahal sebenarnya pendidikan itu tidak hanya pada teori,tapi lebih kepada aplikasinya dalam kehidupan. Maka untuk masalah itu KTSP muncul dengan kelebihan kurikulum yang disusun oleh guru dan sekolah. KTSP memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada sekolah untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan sarana dan prasarana yang tersedia. Sehingga diharapkan setelah KTSP terlaksana, akan muncul tamatan-tamatan yang berkompeten dalam bidangnya. Seperti sekolah di daerah pariwisata tadi. Sekolah mungkin bisa lebih memfokuskan pelajaran siswa kepada pelajaran Bahasa Inggris dan Kepariwisataan tanpa mengurangi pelajaran-pelajaran lain. Hasilnya tamatan sekolah tersebut akan lebih siap untuk menghadapi dunia kerja, khususnya dibidang pariwisata

Oktober 28, 2007 at 8:42 am 2 komentar